Profil Pengusaha
Iwan Berkibar di Australia
Fokus. Prinsip yang dipegang teguh Iwan Sunito dalam mengukuhkan bisnis propertinya di Negara Bagian New South Wales, Australia. Crown International Holdings yang dikelolanya kini tercatat sebagai tiga besar grup properti di Australia.
Sejak didirikan tahun 1996, grup properti yang dikelolanya itu telah menggarap 11 proyek residensial dengan nilai Rp 6,1 triliun. Saat ini, proyek properti yang sedang digarap bernilai Rp 18 triliun.
Bisnis properti mulai ditekuni Iwan pada tahun 1996 saat usianya menginjak 30 tahun. Bersama dua rekannya yang lebih senior, Paul Sathio dan Anthony Sun, mereka membentuk Crown International Holdings dan menggarap bisnis properti di Sydney.
Dengan modal patungan setara Rp 50 miliar, Crown International Holdings menggarap proyek residensial di Rose Bay dengan pendapatan sekitar Rp 55 miliar. Tingginya minat pada proyek kelas menengah atas itu membuat Iwan menyadari ada peluang melebarkan sayap bisnis di segmen itu.
Peluang bisnis properti untuk segmen menengah dijawab dengan memfokuskan proyek properti yang mengedepankan keunikan desain, ketepatan lokasi, kualitas bangunan, dan harga yang sesuai. Apalagi, tren penghuni apartemen adalah mencari hunian yang nyaman, yang dekat akses transportasi dan fasilitas perbelanjaan.
“Hunian yang terintegrasi juga paling mudah untuk investasi, yakni disewakan dan dijual,” ujar pria yang menyandang gelar master manajemen konstruksi dari University of New South Wales pada tahun 1991.
Proyek-proyek yang digarap Iwan dan Paul memang bukan tergolong proyek murah. Proyek yang digarap minimal senilai Rp 1 triliun. Beberapa diantaranya, apartemen Top Ryde City Living yang dibangun di atas pusat perbelanjaan dengan nilai Rp 5 triliun, apartemen Rhodes Waterfront senilai Rp 1,06 triliun, Fivedock Square senilai Rp 3,5 triliun yang memadukan perbelanjaan, apartemen, dan perkantoran.
Selain itu, Parramatta Macquarie Tower senilai Rp 3 triliun, konsep hunian yang bercampur (mixed use) dengan perkantoran dan ritel. Selain itu, pusat perbelanjaan Eastlake senilai Rp 3,5 triliun yang juga terpadu dengan hunian dan perkantoran. Adapun pendanaan dihimpun dari dana perusahaan dan perbankan di Australia.
“Keunikan produk adalah nilai lebih sehingga memiliki segmen pasar tersendiri dan mampu mempertahankan pasar disaat krisis,” ujar Iwan, saat berkunjung ke Jakarta, Juli 2011 lalu. Dia hijrah ke Australia tahun 1985.
Proyek Crown International Holdings dengan nilai aset tinggi memang dikenal luas hingga ke kalangan pejabat pemerintahan. Tahun 2004, Perdana Menteri Australia John Howard meresmikan proyek properti Crown, yakni Genesis Epping.
Pada tahun 2006, Anthony Sun melepaskan kepemilikannya dari Crown International Holdings. Grup properti itu kemudian dikelola Iwan dan Paul dengan tetap fokus pada proyek vertikal mixed use.
Krisis ekonomi duania tahun 2007-2008 justru menoreh kisah gemilang bagi Crown International Holdings. Kiat tidak membeli banyak lahan tahun 2003-2007 membuat perusahaan memiliki dana kas yang cukup.
Karena itu, tahun 2007, tatkala perekonomian dunia lesu dan berdampak pada anjloknya nilai aset properti, Iwan memanfaatkan momentum itu untuk membeli sejumlah aset. Fokus pada usaha membuatnya tahu di mana lokasi-lokasi yang menjual aset properti dengan nilai murah.
Pada tahun 2007, bisnisnya meraup omzet yang setara dengan pendapatan usaha selama 10 tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 1998-2007, total pendapatan dari proyek yang digarapnya berkisar Rp 5 triliun,dan pada tahun 2007 pendapatan melonjak menjadi Rp 10 triliun.
Tidak seperti kebanyakan pengembang, iwan tidak memilih jalur menghimpun lahan (land banking) sebanyak-banyaknya untuk pengembangan bisnis properti. Ia lebih memilih membeli lahan untuk segera digarap. Lahan yang dibeli pun bukan lahan kosong, melainkan lahan yang memiliki aset bangunan agar tetap mendatangkan penghasilan selama lahan itu belum digarap. Prinsipnya, pembelian aset harus efisien dan efektif.
Sayap usaha dikembangkan dengan tetap fokus pada properti, yaitu konstruksi, apartemen, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan lahan. Dengan fokus pada properti, maka ekspansi bisnis yang dilakukan tak lepas dari akar bisnis .
Saat ini, perusahaan yang dikelolanya itu mempekerjakan 60 karyawan tetap, dan 200-300 karyawan tidak tetap. Tahun 2010, nilai penjualan kotor Rp 1,4 triliun dan tahun 2011-2012 nilai penjualan diperkirakan Rp 4 triliun untuk seluruh sektor dengan proyek akan selesai pada tahun 2012. Bagi Iwan, untuk menjadi perusahaan yang untung harus investasi jangka panjang dan fokus.
“Dengan usaha dan fokus, maka proyek berjalan cepat dan efisien,” ujar pria kelahiran Surabaya ini.
Iwan mengaku ingin memperlebar sayap bisnisnya dengan membangun lebih banyak pusat perbelanjaan dan perkantoran dengan segmen pasar tidak hanya Australia, tetapi juga Australia.
Bagaimana dengan Indonesia? Dibandinkan dengan Sydney, Iwan menilai harga properti di Indonesia masih murah. Ia pun berangan-angan menggarap properti di Indonesia dengan menggandeng pengembang lokal dengan nilai proyek minimal Rp 1 triliun.
Sumber: Kompas, Sabtu, 13 Agustus 2011