Crown International Garap Top Ryde US$ 500 juta
Jakarta – Perusahaan pengembang properti asal Australia, Crown International Holding Groups, Tengah menggarap proyek superblok Top Ryde City Living di Sydney, Australia, sebanyak tujuh menara apartemen dengan investasi sebesar US$ 500 juta. Pembangunan proyek tersebut tengah dikembangkan dan diperkirakan selesai tahun 2013.
Pembangunan dilakukan beberapa tahap. Pada tahap pertama sebanyak dua menara apartemen telah dipasarkan 180 unit, tahap kedua dengan satu menara ditawarkan 81 unit. “Untuk tahap ketiga, kami pasarkan satu menara dengan jumlah 502 unit,” ujar CEO Crown Group Iwan Sunito di Jakarta, Senin (14/11).
Apartemen tersebut akan berada di atas Top Ryde Shopping Centre yang telah selesai dibangun. Pusat perbelanjaan yang berdiri di atas lahan seluas 80.000 meter persegi (m2) dan memiliki lebih dari 290 toko khusus. Pusat perbelanjaan ini juga merupakan salah satu yang paling modern di Sydney, setelah pertama kali dibuka pada Agustus 2010.
Unit apartemen yang tersedia untuk pre-sale di Top Ryde City Living terdiri atas satu sampai tiga kamar tidur dengan harga mulai dari Aus$ 500.000 untuk apartemen dengan satu kamar tidur dan satu are parkir mobil, Aus$ 650.000 untuk apartemen dengan dua kamar tidur, dan Aus$ 875.000 untuk apartemen tiga kamar tidur dengan dua area parkir mobil.
Iwan mengatakkan, apartemen tahap ketiga ini belum diluncurkan di Sydney, tetapi masyarakat Indonesia diberikan kesempatan untuk membeli pertama apartemen ini. Pemasaran juga akan dilakukan di Singapura dan Tiongkok tahun 2012. “Kami harap sekitar 20-30 warga Indonesia akan membeli apartemen di Sydney ini,” kata dia.
Pengembang ini menawarkan jaminan sebesar 5% per tahun dari harga pembelian di semua tipe apartemen. Selain itu, keuntungan yang didapat berupa return properti sebesar 30-40% per tahun, karena minimnya pasokan di kawasan tersebut. “Suplai di Sydney hanya sepertiga dari kebutuhan yang ada, dan tidak akan terkena imbas krisis di sana lantaran pembangunan properti masih minim,” tutur dia.
Lebih murah
Ditempat yang sama, County Director Ray White Indonesia Johann Boyke Nurtanio menuturkan, saat ini harga properti di Australia masih tergolong murah dibandingkan dengan Singapura. Harga properti di Australia sekitar Rp 70 juta per meter persegi (m2), sedangkan Singapura biasa mencapai Rp200 juta per m2. “adapun Indonesia juga murah sekitar Rp 20-30 juta per m2,” kata dia.
Menurut dia, para investor asing yang membeli properti di Australia banyak berasal dari kawasan Asia, khususnya Hong Kong dan Tiongkok. Presentase pembeli dua negara tersebut mencapai 50-60% pangsa pasar yang ada. “Sedangkan investor asal Indonesia baru sekitar 5-7%. Mayoritas mereka sudah familier dengan Australia karena ada saudara yang bekerja ataupun belajar di sana,” kata dia.
Ekspansi
Iwan menambahkan, guna memperlebar pangsa pasarnya, pihaknya tengah menjajaki pembangunan dengan beberapa pengembang asal Indonesia. Proyek superblok dinilai lebih prospektif untuk dikembangkan di Jakarta. “Bisa disampaikan kami sedang mencari mitra strategis. Indonesia sangat menarik,” tuturnya.
Crown, lanjutnya, hanya berminat membangun superblok dengan konsep mix used development yang berada di Jakarta. Pemilihan kota Jakarta lantaran nilai investasi yang dibutuhkan cukup besar. “Kami tidak mau dengan proyek yang hanya beberapa miliar. Kami ingin agak besar sehingga bisa meningkatkan image,” tutur Iwan.
Sejauh ini, pihaknya tengah mempertimbangkan tawaran salah satu pengembang asal Indonesia. Pengembang tersebut juga ingin melebarkan sayap bisnis di Australia, sedangkan Crown ingin merambah Jakarta. “Tetapi itu belum final,” ucapnya.
Crown International Holdings Group (Crown Group) merupakan pengembang proeprti asal Australia yang berdiri sejak 1996. Perusahaan ini telah dan akan membangun sekitar 9-10 proyek proeprti di Sydney dengan total nilai proyek mencapai 18-20 triliun dalam lima tahun ke depan.
Sumber: Investor Daily, Selasa, 15 November 2011