Prospek Ekonomi 2012 Positif
Penyerapan APBN Lamban Picu Pelemahan Ekonomi
Jakarta: Prospek ekonomi 2012 positif, tetapi lambannya penyerapan APBN menjadi pemicu pelemahan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2011.
Pada pengujung tahun terjadi pembengkakan penyerapan anggaran yang bisa memicu volatilitas nilai tuikar dan inflasi. Padahal roda perekonomian bisa bergerak lebih kencang kendati kondisi global masih gonjang-ganjing.
“Saya ingin buat catatan, tahun ini pengeluaran pemerintah kami anggap kurang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pengeluarannya lambat sekali,” ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin nasution dalam acara Indonesia Economic Outlook 2012, kemarin.
Dia menjelaskan satu implikasi langsung dari lambannya penyerapan anggaran, pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 6,5% pada kuartal III dari kuartal sebelumnya 6,6% (yoy). Padahal, BI menaksir ekonomi bisa tumbuh 6,6% kendati ada krisi Eropa.
Implikasi kedua, sambungnya, realisasi anggaran besar-besaran pada akhir tahun akan membuat gejolak pada stabilitas moneter terutama dari sisi nilai tukar dan inflasi.
“Dalam beberapa minggu terakhir saya yakin aka nada realisasi anggaran sekitar Rp60 triliun – Rp70 triliun. Itu harus kami sedot. Kalau tidak sebagian besar dana akan dibuat macam-macam,” tegas Ketua Ikatan Sarjana ekonomi Indonesia (ISEI) itu.
Menurutnya, jika realisasi anggaran dilakukan lebih awal akan memicu dampak ganda. Namun, dia menyadari masalah tersebut bukan hanya di tangan Kementerian Keuangan, melainkan penyakit pada semua kementerian pada pemerintahan saat ini.
Data Kementrian Keuangan menyebutkan penyerapan anggaran belanja negara per 7 November 2011 baru 69,1% atau Rp912,08 triliun dari pagu Rp1320,75 triliun. Berdasarkan distribusi dan penggunaannya, belanja pegawai mencapai RpRp152,32 triliun (83,3%), belanja barang Rp75,85 triliun (53,1%), dan belanja modal Rp57,34 triliun (40,7%).
Secara persentase, realisasi belanja modal sejauh ini tidak lebih baik dari realisasi 7 November 2010 yang mencapai Rp41,48 triliun datau 43,7% dari pagunya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, belanja pemerintah hanya berkontribusi 0,2% terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III/2011 sebesar 6,5%. Kontributor terbesar konsumsi rumah tangga 2,7%, ekspor barang dan jasa 8.3% (minus impor 5%), serta investasi (PMTB) 1,7%.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada Rimawan Pradiptyo menuturkan masalah pada pengelolaan anggaran pemerintah adalah manajemen anggaran di tingkat Kementerian / Lembaga yang tidak memperhitungkan kondisi jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijaksanaan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengakui upaya mencari solusi atas masalah klasik rendahnya penyerapan anggaran belanja pemerintah tidaklah mudah.
Menurut Bambang mentalitas pengelolaan anggaran secara efisien dan efektif fi tingkat pelaksana yang belum memadai membuat penyerapan anggaran cenderung menumpuk pada semester II. Dia mengatakan masalah itu tidak bisa diselesaikan dalam satu penebitan UU.
Ekonomi tahun depan
Di sisi lain, prospek ekonomi Indonesia pada tahun depan positif dari sisi penguatan fundamental indikator makro dan dari struktur ekonomi berbasis permintaan domestik.
Ekonomi masih memberikan peluang mencapai pertumbuhan tinggi. Namun, kecenderungan menipisnya surplus neraca pembayaran akibat tingginya impor dapat menjadi sentiment negative yang perlu diantisipasi. Kinerja ekspor diprediksi melambat.
Mengenai krisis utang yang tengah mendera Eropa dan perlambatan laju ekonomi Amerika Serikat, ekonom Universitas Indonesia Sugiharso Safuan menuturkan pada tahun depan akan terjadi penurunan permintaan ekspor di dua kawasan tersebut
Di tempat yang sama, dari sisi kredit perbankan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Mulyaman Hadas, mengatakan pertumbuhan kredit yang cukup positif juga menjadi modal positif pertumbuhan ekonomi pada 2012.
BI, jelasnya, terus menghindari krisis akibat kredit macet, seperti yang terjadi di AS pada 2008. Menurut data BI, per September 201, rasio kredit 25% dari PDB, terdiri dari 31% kredit investasi, 24% kredit modal kerja, dan hampir 24% kredit konsumsi.
Prospek poditif didukung oleh ekonomi Bank Mandiri Mirza Adityaswara yang mengemukakan laju ekonomi Indonesia pada tahun depan akan tetap tinggi, jika kredit perbankan tumbuh, suku bunga rendah, inflasi terkendali, dan defisit transaksi berjalan dapat dicegah.
Dari semua kondisi itu, Darmin tetap optimis aliran modal masuk masih akan terjadi, seiring dengan ekspektasi peningkatan rating investasi Indonesia menuju investment grade pada kuartal I/2012.
Emil Salim, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden dan juga Mantan Menteri Era Orde Baru, menambahkan perbankan turut memberikan andil dalam menciptakan ketimpangan ekonomi, karena penyaluran kredit hanya terkonsentrasi pada daerah Jawa.
Mengenai ekspor, Darmin mengemukakan perlambatan kinerja penjualan produksi domestik ke luar negeri diperkirakan berdampak negative pada neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia.
“Karena nilai dan volume impor terus tumbuh seiring dengan kebergantungan industri dalam negeri terhadap barang baku pendukung dan barang modal impor. Fundamental ekonomi RI ada sisi minusnya, yakni dari transaksi berjalan cenderung defisit,” jelasnya.
Pada kuartala III/2011, data BI menunjukkan surplus transaksi berjalan US$119 juta atau turun 74,95% dari kuartal II yang mencapai US$475 juta dan anjlok dibandingkan dengan surplus kuartal I/2011 senilai US$2,07 miliar.
Sumber: Bisnis Indonesia, Kamis, 17 November 2011