Ray White Kelapa Gading
Jl. Kelapa Nias Raya GN 8
Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara.

Telp : +62 21 451 5993 & +62 21 458 55656, Fax : +62 21 452 8616 & +62 21 458 74298
Email : info@rwgading.com
Cari Properti
Alamat:
Sales
Yahoo Messenger
Yahoo Messenger
Why Choose Ray White
RWKuta
Bali Trip 2011
Incentive Tour 2
Ray White Kelapa Gading Barat
Incentive Tour 3
Acara Pembukaan Kantor Baru RWKG
raywhite
Outbond Ciwidey
Career With Ray White
Sing Trip
Pesta Natal&Tahun Baru 2012
Ray White Harapan Indah
Berita Terkini
16 December 2011:

Properti Masih Cair Di Tahun Naga Air

Properti Masih Cair Di Tahun Naga Air

Tahun depan bisnis properti bakal tumbuh sebesar 20% hingga 30% pada 2012

 

Tahun depan, bisnis properti masih memiliki prospek cerah. Perekonomian nasional yang tetap oke menjadi factor pemicu tingginya permintaan properti. Para pengembang pun bersiap melakukan ekspansi bisnis di Tahun Naga. Namun, mereka tetap harus waspada terhadap ancaman krisis global.

 

     Dalam hitungan hari, tahun 2011 akan berakhir. Para pelaku usaha menyiapkan berbagai rencana untuk menyambut tahun 2012. Tak terkecuali  pengusaha di sector properti. Di Tahun Naga mendatang, sejumlah pengembang sudah berancang-ancang mengepakkan sayap bisnisnya.

     PT Summarecon Agung Tbk, contohnya. Jika tidak ada aral melintang di kuartal pertama tahun depan, perusahaan properti yang berdiri sejak 1961 ini, bakal meluncurkan proyek baru, yakni pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat. Namanya Summarecon Mall.

     Menurut Direktur Utama Summarecon Agung Johanes Mardjuki, proyek tersebut  akan dibangun di atas seluas 20 hektare dengan investasi mencapai Rp 500 miliar. Pembangunannya akan dimulai pada kuartal pertama 2012. Harapannya, di semester pertama 2013, mal itu sudah bisa beroperasi. “Selain mal, kami juga akan menggarap proyek-proyek baru residensial di daerah Kelapa Gading, Serpong, dan Bekasi,” ujar dia.

     Tentu, bukan tanpa dalih jika Summarecon gencar membangun sejumlah proyek properti baru. Johanes bilang, prospek properti di Tanah Air tahun depan masih cerah. Kondisi ini ditopang oleh terus membaiknya sejumlah indikator perekonomian Indonesia.

     Misalnya, tahun depan, pertumbuhan ekonomi negara kita kemungkinan berada di level 6,7%. Sesial-sialnya, Johanes memperkirakan, ekonomi Indonesia masih bertengger di posisi 6,3%. Kondisi ini didukung oleh masih adanya ruang bagi penurunan suku bunga perbankan. Alasannya, laju inflasi di 2012 nanti masih akan rendah, sekitar 4,5%.

     Nah, semua indicator tersebut bakal mendorong permintaan terhadap properti. Johanes memproyeksikan pertumbuhan bisnis properti tahun depan antara 20% - 30%. Soalnya, daya beli konsumen masih kuat. “Faktor ini menjadi pemicu masih besarnya demand atas properti,” imbuh Johanes.

     Dengan situasi seperti itu, Summarecon berani menargetkan pertumbuhan penjualannya, dari Rp 2,8 triliun di 2011 menjadi Rp 3,5 triliun pada 2012. Pertumbuhan ini. Terbesar masih berasal dari kontribusi penjualan residensial, seperti rumah dan apartemen.

 

Daya beli masih menguat

     Prospek cerah bisnis properti juga diamini Harun Hajadi, DIrektur Utama PT Ciputra Surya Tbk. Menurut dia, kondisi makro ekonomi Indonesia tahun depan cukup baik. Indikasi itu sudah bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi tahun ini.

     Ekonomi kita pada 2011 bisa tumbuh hingga 6,6%. Tapi, pencapaian ini tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang gencar berinvestasi di sektor infrastruktur. “Jika dibarengi, maka pertumbuhan akan lebih tinggi lagi, bisa double digit,” ungkap Harun.

     Penurunan tingkat suku bunga acuan (BI rate) hingga 6% alias titik terendah sepanjang sejarah, Harun menambahkan, turut andil mempercerah prospek bisnis properti tahun depan. Dampaknya, ke penguatan daya beli masyarakat. Orang akan belanja lebih berani di properti. “Jadi, ada multiplier efeknya, ada perputaran uang di properti,” katanya.

     Ekonomi yang kinclong tahun ini juga memberikan sinyal positif bagi bisnis properti Grup Ciputra. Harun mengungkapkan, pertumbuhan penjualan properti perusahaannya di 2011 nyaris menembus angka 100%. “Hingga akhir tahun ini, kami targetkanrevenue sales mencapai Rp 4,2 triliun dari 2,5 triliun di tahun 2010,” tuturnya.

     Bercermin pada tingginya penjualan di 2011, Grup Ciputra akan terus berkespansi pada 2012 nanti. Sejumlah proyek baru sudah mereka siapkan. Di antaranya, mengembangkan Ciputra World di Jakarta dan Surabaya. Kemudian, membangun proyek residensial dan bizpark atau ruang perkantoran dan pergudangan di sejumlah kota, semisal Pekanbaru, Pekalongan, Semarang, Denpasar, dan Kendari.

     Krisis utang yang melanda sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat memang masih membayangi. Toh, Harun optimis, krisis itu tidak akan terlalu berdampak buruk terhadap ekonomi kita. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi mendapat dukungan kuat dari industri berbasis sumber daya alam dan konsumsi domestik.

     Indonesia punya dua kekuatan itu. Apalagi, harga komoditas terus naik. Jika kedua faktor itu masih tumbuh tinggi, negeri ini tidak terpengaruh krisis global. Kecuali, krisis itu mempengaruhi permintaan komoditas. Ambil contoh, harga batubara, minyak kelapa sawit, serta emas jatuh. “Tetapi, saya tidak melihat itu terjadi,” papar Harun.

     Hanya, Harun menilai bisnis properti bukan tanpa tantangan. Tantangan justru berupa psikologis pasar dan tingkat suku bunga. Kalau bunga perbankan naik, masyarakat akan menunda pembelian properti. Mereka bakal menyimpan dulu uangnya di bank. Sebab, rumah bukan kebutuhan mendadak, tidak seperti makanan yang harus dikonsumsi tiap hari.

     Anton Sitorus, pengamat properti, mengingatkan, meski sektor properti tahun depan masih tumbuh bagus, pengembang sebaiknya tetap waspada menyikapi kondisi itu. “Jangan terlalu jor-joran mengambangkan proyek. Market ada batasannya. Pembangunan bertahap jauh lebih baik,” ungkap Kepala Riset Jones Lang LaSalle ini.

     Selain itu, para pengembang juga harus memeprhatikan harga jual unit properti. Ditengah persaingan bisnis yang lumayan ketat, faktor harga turut mempengaruhi skala penjualan. Jika mereka membanderol harga terlampau tinggi, bukan mustahil konsumen menahan keinginan membeli properti. Intinya, jangan menjual proeprti dengan harga yang gila-gilaan.

     Apalagi, krisis global sudah didepan mata. Ini bisa mempengaruhi daya beli konsumen terhadap barang-barang yang nilai jualnya tak sesuai kemampuannya. Namun, dampak ancaman krisis global baru akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, jika terlebih dahulu menyerang negara besar di Asia seperti China. “Jika ekonomi China melambat, maka akan berdampak terhadap ekonomi nasional,” ujar Anton.

     Oleh sebab itu, pertumbuhan bisnis properti tahun depan tidak terlalu jauh dari pencapaian tahun ini. Anton memprediksi bisnis properti di 2012 akan tumbuh antara 20% hingga 30%. Tapi, sektor ini belum akan bubble seperti dikhawatirkan sejumlah kalangan. Penyebabnya, permintaan terhadap unit properti masih tinggi. “Karena ruang terbatas, demand tinggi,” katanya.

 

 

 

 

Sumber: KONTAN (Edisi Khusus), Desember 2011

[RayWhiteGading.com]Cetak
Arsip Berita Terkini >>
Copyright © 2005 Ray White Kelapa Gading, All rights reserved.
Dilarang Menyalin Sebagian atau Seluruh Isi Tanpa Pemberitahuan kepada Ray White Kelapa Gading.
Powered by Raywhite Gading Engine v.1.0 |
Jejala