Investasi Rp 8,16 Triliun
2012, Bisnis Hotel Terus Bergulir
Jakarta: Bisnis hotel dan kondominium hotel (kondotel) terus menggeliat pada 2012. Setidaknya ada Sembilan pengembang yang bakal merangsek bisnis tersebut dengan nilai investasi sekitar Rp 8,16 triliun.
Para pengembang mengemas bisnis tersebut dalam hotel berbintang, hotel budget, kondotel, dan resor. Sejumlah pengembang raksaksa bahkan mulai membidik segmen hotel budget seperti PT Ciputra Property Tbk dan PT Intiland Development.
“Sekarang ini investor memilih kondotel dan budget karena break event point (BEP)nya lebih cepat, yakni berkisar 5-6 tahun,” kata Ali Tranghanda, pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW), kepada Investor Daily, di Jakarta, Rabu (28/12).
Untuk bisnis hotel, kata dia, BEP-nya berkisar 7-8 tahun. Sedangkan untuk proses pembangunan hotel, terutama hotel bintang empat dan lima dengan kapasitas kamar 150-200 kamar, bisa memakan waktu satu hingga dua tahun.
Menurut dia, khusus untuk kondotel, para pengembang mulai banyak mengincar di luar daerah. “Kondotel mulai gencar di Bali sejak tahun lalu,” kata Ali.
Pertumbuhan Ekonomi
Ali menuturkan, pasar kondotel akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan bisnis dan ekonomi di Indonesia. Sejumlah pengamat ekonomi dan Bank Dunia menaksir, pertumbuhan ekonomi pada 2012 bakal mencapai sekitar 6,2%.
Sebelumnya Sekretaris Perusahaan Intiland Theresia Rustandi mengatakan bahwa pembukaan hotel Whiz akan meningkatkan pendapatan berkelanjutan (recurring income) Intiland. “Dari semula 10% menjadi 30%,” kata Theresia.
PT Intiland Development Tbk melalui anak usaha PT Intiwhiz International berencana membangun 60 hotel dengan brand Whiz hingga lima tahun ke depan. Tahun 2012, sudah ada komitmen kerja sama sebanyak 19 hotel di berbagai daerah di Indonesia. Investasi pembangunan satu hotel ditaksir RP 50 miliar, sedangkan untuk brand Grand Whiz sekitar Rp 60 – 70 miliar.
Hingga akhir 2012, Intiland sudah mengoperasikan tiga hotel Whiz. Hotel tersebut tersebar di Semarang, Yogyakarta, dan Kuta.
Data yang diolah Investor Daily menyebutkan bahwa sedikitnya 10 pengembang agresif membangun hotel dan kondotel pada 2012. Nilai investasinya ditaksir sekitar Rp 8,16 triliun. Wilayah investasi tersebar di berbagai wilayah diantaranya di Jakarta, Bali dan Makassar.
Khusus untuk wilayah Bali, menurut Head of Research and Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo, industri penginapan di Bali terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata. Hingga akhir tahun 2011, jumlah wisatawan yang berkunjung bisa mencapai enam juta orang. “Perbandingan wisatawan domestik dan mancanegara seimbang,” kata dia.
Arief menambahkan, pasokan kamar hotel diprediksi terus bertambah hingga 2014 menjadi sebanyak 7.400 kamar. Adapun pada 2012 dan 2013 akan ada tambahan pasokan sebanyak 3.000 kamar yang akan beroperasi.
“Ini merupakan penambahan kamar terbanyak di Bali selama satu dekade, yang biasanya per tahun hanya terdapat 320 kamar hotel baru,” tandasnya.
Sumber: Investor Daily, Senin 2 Januari 2012