World Economic Forum Bahas Krisis Eropa
Dana Asing Masuk Rp 4 Triliun
Jakarta – Investor asing membukukan net buying atau beli bersih saham senilai Rp 4,07 triliun sejak awal 2012. Pembelian saham tersebut diperkirakan bertambah menjadi Rp 30-40 triliun hingga akhir tahun ini atau meningkat minimal 21% dibandingkan 2011 sebesar Rp 24,8 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), net buying terbesar terjadi pada 19 Januari 2012 senilai Rp 859,5 miliar. Net buying itu termasuk transaksi tutup sendiri (crossing) di pasar negosiasi BEI.
Adapun beberapa broker asing yang mendominasi net buying sejak awal Januari adalah Credit Suisse, Deutsche Securities, Kim Eng Securities, JP Morgan, Merrill Lynch , CIMB Securities, Nomura, BPN Paribas, dan Citigroup
Pada perdagangan saham di BEI, Selasa (24/1), net buying asing sebesar Rp 107,07 miliar. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik 8 poin (0,2%) pada level 3.994,5.
Pardomuan Sihombing, pengamat pasar modal dari Recapital Asset Management, mengatakan, dana asing yang masuk ke bursa saham sejak awal 2012 cukup besar.
“Kita bakal menerima tumpahan dana dari Negara-negara maju. Hingga akhir tahun ini, dana asing yang masuk ke pasar saham diperkirakan sebesar Rp 30-40 triliun,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.
Pardomuan menegaskan, perekonoamian di AS dan Eropa yang masih bergejolak bakal memicu derasnya aliran dana ke bursa saham domestik. Setidaknya ada tiga faktor yang dapat mendukung capital flow tersebut yaitu kestabilan ekonomi dalam negeri, peningkatan kinerja emiten, dan peringkat Indonesia sebagai negara layak investasi (investment grade).
Dia memprediksi, pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini sebesar 6,5%, inflasi 5%, dan kenaikan laba bersih emiten rata-rata sekitar 30%. Sedangkan IHSG diproyeksi mencapai level 4.500-5.000 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp8.500-9.300.
“Aliran dana asing juga bisa mengurangi volatilitas pergerakan rupiah menjadi di bawah Rp 9.000 per dolar AS, karena banyak pasokan dolar. Tapi, pemerintah harus bisa mengarahkan agar itu tak menjadi hot money, dengan mengarahkan investasi tersebut ke sektor riil,” tutur Pardomuan.
Mengenai investment grade, dia mengatakan bahwa itu akan mendorong masuknya dana pensiun global. Selama ini, pasar saham Indonesia didominasi oleh para manager investasi (MI) dan hedge fund. Mereka antara lain Fidelity Investment, Templeton Investment, dan Goldman Sachs.
Adapun beberapa dan pensiun global yang terkemuka adalah California Public Employees Retirement System (CalPERS), Government Pension Investment Fund of Japan, Government Pension Investment Fund of Norway, Stichting Pensioenfonds ABP (Belanda), dan National Pension Service (Korea Selatan).
Secara terpisah, Kepala Riset Sinarmas Sekuritas Jeffrosenberg Tan yakin aliran dana asing ke bursa saham Indonesia tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Sebab, net buying asing tahun lalu masih relative kecil. Di sisi lain, kekhawatiran investor terhadap kondisi Eropa mulai mereda.
“Krisis Eropa membuat ekonomi global melemah, namun diperkirakan tidak akan seperti krisis 2008. Kekhawatiran investor sedikit mereda dan kembali mengatur portfolionya,” kata dia.
Jeff Tan menegaskan, saat ini pemodal termasuk investor asing mulai berani menginvestasikan dananya setelah melihat perkembangan Eropa. Sentimen positif masih akan berlanjut, jika Standard & Poor (S&P) menaikkan peringkat Indonesia ke level investment grade dalam waktu dekat. Sebelumnya, peringkat tersebut diberikan oleh lembaga rating internasional yaitu Fitch Ratings dan Moody’s.
Dia mengungkapkan, para investor asing maupun lokal kemungkinan memilih saham-saham emiten berbasis domestik. Sebab, kinerja emiten tersebuut relative kebal krisis global. Emiten-emiten itu bergerak di bidang barang konsumsi, properti, otomotif, dan infrastruktur.
Namu, pendapat berbeda disampaikan oleh analis Indo Premier Securities Ikhsan Binarto. Menurut dia, krisis Eropa masih menghantui pergerakan IHSG sepanjang tahun ini. Dengan begitu, aliran dana asing tidak jauh berbeda dengan 2011.
Di isiis lain, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa mengerek tingkat inflasi. Rencana itu sangat mungkin, mengingat adanya embargo minyak Iran oleh AS dan Uni Eropa. Embargo dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Per Juli 2012, harga minyak diprediksi menembus US$ 120 per barel.
Meski demikian, Ikhsan, IHSG tetap berpeluang tumbuh terutama ditopang oleh saham-sahamberbasis komoditas seperti batubara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Selama ini, saham-saham tersebut ikut berkontribusi besar terhadap pergerakan IHSG. Dia memprediksi, hingga akhir 2012, IHSG mencapai level 4.400-4.500.
Sumber: Investor Daily, Rabu, 25 Januari 2012